Akhirnya diriku pun berjumpa dengan kekasih hatiku .... konco cangkruk 'ala bunderan.
Walau tak lama, cuma sampe jam 12 malam, namun penuh dengan rasa riang bin bungah tak terkira. Kali ini memang agak gak biasa, karena menurut Sang Penunggu-nya bunderan ini biasa dirameikan oleh gerombolan K3 (komunitas kebon kacang). Tapi malam itu yang ada cuman si Moes Jum bareng satu anggota K3. Sementara anggota K3 lain sedang sibuk nguli utk persiapan ba'dan di kampung sebulan lagi ... hehehe kejar setoran
. Obrolan ngalor-ngidul 'ala bunderan ini memang sangat mengasyikan. Bahan obrolan cukup banyak dan bervariasi, mulai dari cerita kuliah, pacaran, angan2, masa depan cangkrukan, sampai dengan gossip para sele-blogger. Cangkem kami yang cuman dua itu rasanya koq masih kurang aja utk mebahas bahan obrolan selama cangkruk. Lucunya itu semua kami lakukan berdua, layaknya dua sejoli menjalin asmara di bunderan yang romantis. Kami ketawa-ketiwi, cengar-cengir, udad-udud, nyruput kopi, nenggak teh botol dan jegigisan bareng
.
Tapi cangkrukan seperti ini ternyata gak kami lakukan sendiri. Di sudut kiri, para kuli bangunan musiman juga asik cangkrukan. Di pager pembatas jalan ada sekelompok buruh lainnya yang juga cangkruk. Sementara tetangga sebelah kami adalah para petugas keamanan swasta (preman parlente) juga asik ngobrolin perolehan tip dan hasil colak-colek jablay kenalan mereka di bar kemarin malam. Pak haji Meduro tukang rokok dan teh botol itu masih aja setia nemanin kita semua sing dho cangkruk. Demikian pula halnya dengan Mamang Tahu Gejrot, dan mbakayune tukang seduh kopi.
Hari makin malem dan Jakarta di hadapan kami sudah jadi sepi. Aku harus siap2 utk pamitan pulang sama Sang Penunggu. Pengen rasanya nerusin ngobrol dan (mungkin) sekaliyan tidur di bunderan, tapi kan itu tidak mungkin. Di rumahku di mBogor sana sudah nungguin anak-bojoku. Aku memang harus segera pulang. Tapi di kepalaku masih nempel cita-cita luhur Sang Penunggu:
"Coba ya ... in the future nih ... kita jadiken tempat cangkrukan 'ala bunderan ini sebagei cikal bakal cangkrukan di Jakarta. Kita harus ajak semua temen2 untuk ikutan ngumpul. Kalo yang ngumpul sudah banyak maka kita bisa perluas tempat duduk kita (gak cuma di secuil semenan ini) ...."
Air muncrat penanda Jakarta di seberang kami telah berganti jadi kulah tempat anak2 jalanan dho nyemplung dan mandi malam gratisan. Lampu bunderan pun sudah dimatikan. Aku pulang, Sang Penunggu juga pulang ... tapi di hati kami masih melekat cita2 luhur mengembangkan CANGKRUKAN BUNDERAN di masa depan.
Ayo sedherek ... kita wujudkan dunia cangkruk di Jakarta ini. Supaya tidak ada kesan lagi bahwa yang cangkrukan di sana adalah orang2 hopeless (miturut critone Sang Penunggu).
Foto bunderan di waktu malam dijupuk soko kene.