Pancen lagi bejo, memang mujur,
lucky me … aku
dapet kesempatan untuk nonton tontonan rakyat jelata yang paling
top markotop. Semoga keberuntungan ini memang benar adanya. Semoga aku termasuk beberapa ratus orang yang nonton saat itu. Amiin …. Hehehe
Sudah lama rasanya aku
gak pernah nonton acara
tipi sing paling dakkangeni, Aneka Ria Srimulat. Jelas lah
lha wong sekarang acara itu sudah tutup. Padahal khas
banget,
sampe lagu pengiringnya aja masih terngiang2 di benakku. Aku memang agak kurang beruntung selama ini karena belum pernah nonton Srimulat
live. Bisanya
cuman membayangkan
kapaan yaa bisa lihat Didik Mangkuprojo, Bambang Gentholet, Eko Londo dsb dsb … secara langsung tanpa melalui
tipi.
Tapi rupanya Gusti Allah
isih paring bejo marang awakku.
Ndilalah aku
pas berkunjung ke
Serbeje nan penuh
"cuk" itu. Aku diajak
karo kancaku utk nongkrong sambil
ngopi di Taman Bungkul,
deket bonbin
Serbeje. Aku baru tahu
kalo itu adalah lokasi bersejarah karena (katanya) adalah makam Mbah Bungkul yang mertuanya salah satu Wali Songo. Berhubung aku ini juga menggemari wisata religi, selain wisata kuliner dan nongkrong, maka kesempatan itu
gak daksia2kan. Aku menyempatkan sholat Maghrib di mesjid kecil kawasan kuburan kuno Mbah Bungkul. Tenang
banget rasanya.
Bubar sholat langsung nongkrong
karo ngopi tubruk di pelatarannya. Tambah
gayeng karena sambil
ngopi ditemani
ngobrol ngalor-ngidul soal budaya, politik, dsb sama temen2 aktivis pedagang keliling, aktivis lingkungan, dan wartawan di sana. Yang diobrolin ya jelas soal ruang publik, rencana program
"pedestrian" dari
pangmerintah Serbeje, tumpukan sampah Kali Surabaya,
sampe hutan mangrove Wonocolo. Tak kurang juga obrolan santai soal
gimana mengaktifkan komunitas2 di kota
Serbeje.
Nahh … bubar
ngoceh sana ngoceh sini, aku
dijak koncoku utk muter ke bagian depan Taman Bungkul. Di sana tempatnya para anak muda
sing dho pacaran serta aksi unjuk kebolehan akrobat
pake skateboard. Di sampingnya ternyata ada panggung yang hingar-bingar menarik perhatian. Bagiku yang
ndeso ini jelas aku tertarik lihat ke sana. Soalnya yang terdengar adalah lagu2 campur sari dari suara merdu perempuan. Merdu suaranya ternyata secantik orangnya. Dua perempuan cantik muda menjelang STW asik nyanyi di panggung.
Ayuu banget coooy …!!! Weleh weleh weleeehh!!Terpaku
ndlongop liatin penyanyinya membuat aku agak lupa sekitar.
Kancaku langsung
njawil sambil bilang,
"Ehh ternyata ono Srimulat lho!" Ahh yang
bener, aku langsung
jenggirat toleh sana toleh sini. Benarkah yang dikatakan
kancaku? Setelah
nunggu beberapa menit, ternyata memang
benul (benar dan betul). Panggung Srimulat dimulai.
Jeng jeeeng …. Satu persatu pemainnya muncul. Ada Meti, ada Eko Londo juga … Hahahahaaaa ….
Gerr gerrran pun dimulai. Penonton
keplok2, ngguyu kepingkel2 melihat aksi panggung dan celotehan para pemain Srimulat. Padahal
kalo dipikir2 itu guyonan banyak yang sederhana dan sejak dari jaman dulu sering dimainkan. Tapi kelihatannya para penonton (termasuk juga aku) masih
aja ketawa geli
denger dan lihatnya.

Ceritanya biasa aja, soal jaman penjajahan. Seperti biasa Eko Londo
yaa jadi
meneer Kumendan Londo dengan rambut warna pirang di ujungnya (
koyok sulak). Terus datang para pemain
kentrung yang sebenarnya adalah aktivis kemerdekaan tapi
gak berani perang. Mereka bermain
kentrung dengan lagu andalan:
"Iki piye lak iki piye …. Embuh embuh gak eruh jawane …. Aku ngono yo meneng wae … uwong telu podo gendhenge … "
Terus mereka pun kembali bernyanyi diiringi gendang yang isinya
nyindir2 soal penjajah Belanda yang merugikan. Bisa ditebak kemudian, Sang Kumendan langsung
nesu dan
ngusir mereka pergi. Mereka para pemain
kentrung terus kecewa
saking Sang Londo
gak mau bayar ongkos
ngamen mereka sebesar 300 gulden.

Begitu para pemain
kentrung pergi, langsung Sang Londo dan para
gendhaknya berpesta2. Mereka bilang,
"Ayo kalo gitu kita pesta dan minum-minum … hahahaaa!!" (
koq mesti pake kata minum2
yaa?). Langsung cahaya panggung jadi redup dan
byar pet byar pet. Suara musik
serem langsung terdengar dan …
"Haaaa …. Mana Ndoro Tuan yang sudah menyiksakuuu …" Suara
serem modhel setan gentayangan terdengar jelas. Tiba2 penonton pada
njerit2 dan kabur …. Ternyata dari belakang penonton keluar Hantu Dewi lengkap dengan baju panjang putih dan muka
seremnya. Sang Hantu
bener2 sereem lho … aku
aja sampe melok ngeri. Hantu Dewi rupanya balas dendam pada Sang Kumendan Londo karena sudah menyiksanya (mungkin memperkosa
yaa) semasa hidup. Londo,
gendhak2nya, dan
kacung2nya pun jadi kabur dan ada yang
ditekek (dicekik) sama Hantu Dewi. Ini lah akhir dari ceritanya.
Sebuah akhir yang biasa kita lihat di panggung Srimulat memang. Tapi
atiku senenge gak karuan. Akhirnya aku nonton
Srimulat Live in Surabaya.
Sampeyan pernah juga nonton live? Mungkin sampeyan bisa bagi cerita yang serupa … sumonggo!