Crita
-ku ini adalah
crita tentang seorang kawan yang kebetulan juga jadi pengguna setia KRL dari
mBogor. Kesamaanku sama dia selama menjadi "angker alias anak kereta" adalah pada kegemaran menikmati sajian musik berirama riang dan atraktif dari pengamen di peron stasiun
mBogor.
"Bagus hoo ... music dengar enak hoo! Ada guitar, ada big base .... nice music!" begitu kira2nya ungkapan dia (hampir) setiap hari. Agak aneh memang bahasanya dia, maklum dia itu asli
wong pinoy alias
Filipin yang dengan gagah-berani belajar bahasa Indonesia secara otodidak. Sebut saja kawan itu Bagito Pinoy,
soale sepertinya dia agak pemalu
kalo urusan kenal-memperkenalkan diri. Beberapa menit setiap hari sebelum KRL jam 08.27 berangkat dia
s'lalu nyempatin diri utk sekedar menonton dari kejauhan sambil
senyam-senyum dan ikut berdendang malu2 .... hihihii

.
Tau gak sampeyan, itu lagu yang
dinyanyiin kebanyakan adalah lagu2 berbahasa Inggris, jadi wajarlah dia tahu.
Lha wong orang2
Filipin kan lebih
jago bahasa Inggris dibanding kita2 ini.
Rupanya si Bagito ini sudah demikian kesengsem-nya sama para pengamen tersebut. Dia pernah bercita2 jika kelak kontrak kerjanya dia di Indonesahh sudah habis, dia mau nambah seminggu untuk tinggal di mBogor. Dia mau ikut ngamen bareng grup pujaan tersebut di stasiun mBogor. Gak dikasih dhuwit juga gak apa2 yang penting boleh ikut aja sudah puas kata dia. Bahkan, ternyata sekarang dia punya tambahan keinginan baru .... "I want to buy guitar lele", katanya. Nahhh betul kan dia begitu cintanya ingin jadi pengamen kereta. Tapi aku juga heran kenapa guitar lele, apa sih maksudnya? Dia bilang guitar lele itu adalah gitar berukuran kecil yang mirip dengan ukulele, namun punya enam senar. Menurut si Banito itu gitar sangat bagus kualitasnya dan khas karena ukurannya yang kecil.
Suatu hari si Bagito pergi berburu guitar lele pujaannya sampai ke Jakartee. Kupikir dia pasti jadi beli gitar itu, soale dia bilang sudah amat sangat pengen punya barang itu. Belakangan aku baru tau ternyata dia gak jadi beli gitar itu. Waktu kutanya kenapa, dia jawab begini,"Saya pergi Blok M, ada toko MG. Waah guitar banyaaak ... baguuuss ... good quality hoo! But guitar lele mahaall ... harga tiga ratus dua puluh ribu ..." Kepalanya sampe geleng2 dengan mulut mecucu karena kecewa. Dia kecewa karena harga gitar berukuran kecil koq lebih mahal dibanding gitar berukuran biasa (normal). Aku tanya kenapa kamu gak beli aja di negaramu sana. Di Cebu kan banyak, karena terkenal sebagai daerah produsen gitar seperti halnya Solo dan Klaten. Tapi Bagito berkeras gak mau karena menurut dia di Filipin harganya mahal. Dia berharap harga di Indonesahh bisa lebih murah ... ehh ternyata sarua wae alias podho wae.
Pagi tadi seperti biasa aku ketemu Bagito di stasiun dan nunggang KRL 08.27 bareng2. Di perjalanan terus dia bilang sama aku gini, "Saya enggak mau beli guitar lele .... mahaalll. I better buy ikan lele, satu kilo lima belas ribu, goreng jadi pecel lele .... makan enaaak!!" Terus dia nambahin, "Makan pecel lele perut kenyaaang .... " katanya sambil ketawa ngakak
.
Oooalaah ... leleeee ... leleee ... mungkin namamu sudah jadi virus buat temenku Bagito. Mungkin karena dia sering makan pecel lele di Taman Kencana, sekaligus sering liat pengamen peron stasiun, dia jadi tergila2 sama guitar lele. Pengen rasanya aku mbantuin dia mencarikan guitar lele yang harganya terjangkau alias murah, namun berkualitas bagus. Tapi aku sendiri juga gak tau di mana mencarinya.
Sampeyan ada yang bisa bantu kasih tau atau kasih saran buat kawanku si Bagito Pinoy ini???