|
|
 |
Tuesday, December 22, 2009
Sebagei turis yang masih juga ndeso, seperti biasanya suasana ndeso selalu berusaha narik perhatianku. Gak nyaman rasane yen cuma tinggal di kamar hotel. Bosen di hotel, aku pindah panggonan ke kampung. Beruntung aku entuk konco, wong Kei asli, sing bersedia menampung turis ndeso koyo aku iki di rumahnya. Iyo too
Mas nginap saja di rumah beta. Daripada hambur2 uang saja di hotel. Katong bisa main2 gratis di laut. Beta pu kampung ada di pinggir laut," begitu katanya. Langsung wae
aku langsung beres2 barang, trus meluncur nang kampunge koncoku. Sebuah kampung kecil di sudut selatan Kota Tual, Wearlilir jenenge. Wearlilir dhewe artinya adalah mata air. Jaman mbiyen banget orang2 di sini dulunya adalah pindahan dari kampung sebelahnya. Mereka pindah karena mengindari wabah penyakit. Dalam perpindahannya mereka ketemu mata air dan akhirnya bikin kampung.  Ternyata kampung ini menyediakan kelimpahan hasil laut kanggo penduduknya. Gak cuman ikan, lobster, rumput laut, lola, dan teripang. Ada jenis binatang laut juga yang lain dan paling disukai di seantero Kei. Secara tradisional, orang Kei berburu binatang laut ini di waktu2 tertentu (musim). Ngambilnya di pantai karang, saat air laut sedang surut paling rendah atau meti. Trus binatang opo kuwi? Kewan iki jenenge lawar. Adalah sejenis binatang laut kecil sing wujudnya seperti cacing, tapi lembut dan pendek. Yaaa
mirip2 koyo ulat lahh. Khusus di Wearlilir
lawar adalah primadona. Soale lawar bisa dipanen setiap bulan. Berbedar dengan kampung2 liyane dimana lawar hanya ada di bulan2 tertentu. Kebetulan aku dapat moment sing pas. Berada di Wearlilir saat orang2 cari lawar. Otomatis sebagai wong ndeso sing seneng keceh di laut, aku ikut serta dalam panen lawar. Panennya bukan pagi utawa siang, tapi menjelang malam. Begitu hari gelap, itu lah saatnya lawar keluar. Waktunya gak lama, hanya beberapa jam, setelah itu lawar ilang maneh. Ibu2, bapak2, anak muda, anak kecil dho terjun ke laut. Mereka bawa serok, ember, dan alat penerangan. Serok dipake utk nyeroki lawar di air. Ember dipake jadi tempat pengumpulan. Dan obor utawa petromak untuk menerangi. Dari jauh kelihatan seperti titik berwarna merah semu oranye di sepanjang pantai. Kalo didekati, maka kita pasti lihat hasil lawar sing uakehhe poll. Lawar2 dho sliweran di sekitar kaki kita yang terendam air laut. Penuh banget di sekitar kaki. Tinggal diserok aja. Sementara di ember2 para pemanen lawar kita bisa lihat ribuan, mungkin jutaan ekor lawar di dalamnya. Seperti lihat dawet atau cendol, tapi ini hidup dan bergerak. Ehh
sampe hampir lupa crito, soal rasane lawar. Gimana ya? Agak susah menjelaskannya, tapi sing jelas rasane enak dan gurih. Kalo sampeyan pernah makan laron, mungkin rasanya mirip2 lah. Gurih, lekker, berlemak, sudah barang tentu juga kolesterol tinggi. Miturut ibune koncoku, lawar biasa digoreng campur tepung koyok perkedel. Tapi juga ada yang disimpan dalam botol berisi air cuka, sebelum dimakan. Sebuah makanan yang rasanya nikmat, dari Kepulauan Kei. Kalo sampeyan gak percaya, silakan mampir ke Kei utk mencobanya. Ditanggung enak rasanya, asal jangan dibayangkan aja bahwa bentuknya yaa mirip2 cacing utawa ulat
. hehehe
Posted at Tuesday, December 22, 2009 by Moes Jum
Permalink
Saturday, December 19, 2009
Selesai jalan2 di Papua, aku entuk tugas tambahan. Kudune mulih malah disuruh jalan2 lagi. Kayaknya bosku tahu aku senengane mlaku2. Wajar yen dia juga nambahi tugas mlaku2 lagi. "Jum, kalo perjalananmu di Papua sudah beres, tolong kamu jalan lagi ke Maluku yaa?" Geblekkk
emangnya aku ini tentara opo? Yang tugasnya bisa diperintah sewaktu2 utk terjun ke semua pelosok tanah air. Tapi berhubung aku iki cuma kacung
yang kebetulan juga seneng jalan2, maka tugas itupun kujawab dengan "siap bos
I'll do that!" Singkat crito aku wis langsung nyengklak Singo Bersewiwi meninggalkan Kaimana menuju dunia langit biru, laut, pantai dan pulau Maluku. Perjalananku jadi seharian. Soale rutenya muter2 ke timur laut dulu (Nabire), trus ke barat (Ambon), baru akhirnya mabur lagi ke Selatan (Tual). Yupp
menjelang sore akhire aku nyampe juga di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Kota Tual yang jadi tujuanku adalah kota sing bisa dikategorikan asik. Orang2nya ramah, penuh rasa persaudaraan. Ini adalah tempat sing nyaris tidak terganggu pas ono kerusuhan antar-agama di Ambon 10 tahun lalu. Di sini adat Kei dipegang teguh lebih dari sekedar membeda2kan agama. Dadi satu keluarga ada yang Islam dan ada yang Katolik. Tapi mereka hidup rukun karena mereka sama2 pegang teguh adat Kei. Kebayang rasane saiki wong2 Indonesahh lainnya yg sudah meninggalkan adatnya. Adat mung dipake saat acara pernikahan dan pertunjukan kesenian. Contone ora usah adoh2
adat tanah Jawa. 
Trus tugasku dhewe ngopo di sini? Ahh
mau tahu aja. Kan aku sudah kasih tahu di depan tadi. Tugasku ini yo mung mlaku2 alias jalan2. Jadi yaa pastinya tugas2 menikmati hidup layaknya para sutris
ehh turis manca negara. Enak too
mantep too?
 Sebagai turis tentunya kerjaannya ya jelas santei dan leha2. Dengan dukungan penuh dari suasana langit biru dan laut nan indah permai kepulauan Kei, apalagi yang dilakukan kecuali menikmati itu. Setiap hari aku yo mung melaut ke sana, melaut ke sini, dolanan banyu asin, mancing, dsb. Mancing ini lah sing menurutku paling asik. Gak usah pusing beli peralatan mancing koyodene acara tipi "Mancing Mania". Mancing di Kei gak perlu mahal. Cukup sampeyan beli senar murah2an, beli timah pemberat atau pake aja baut ukuran besar, dan siapkan mata pancing ukuran besar
jangan ukuran utk iwak wader alias seluang alias beunteur. Sudah deh
trus tinggal mancing. Bisa mancing di dermaga pinggir laut, bisa juga mancing ke tengah laut dengan nyewa perahu. Dijamin sampeyan bakal dapet jenis2 ikan karang koyodene geropa atau kerapu, kecuali kalo memang sampeyan gak bisa mancing, terlalu bodo, atau nasibnya elek banget ... hehehe. Mantep too? Sampeyan pengen juga??
Posted at Saturday, December 19, 2009 by Moes Jum
Permalink
Tuesday, December 15, 2009
Namatota, senjanya lebih indah ...
Kalo sampeyan masih penasaran soal senja di Kaimana. Sini coba sampeyan ikuti crito yang satu ini. Tapi
kayaknya mending jangan yang Kaimana deh. Soale sudah banyak banget poto2ne. Sampeyan bisa liat poto2 senja Kaimana dan tanya langsung sama Oom Google. Yang jarang2 ada justru crito soal senja di tempat lainnya. Tapi tenaang
ini masih di seputaran Kaimana koq. Tepatnya di sebuah pulau kecil di selatan Kaimana. Namanya Pulau Namatota. Di pulau itu ada sebuah kampung sing jenenge podho, Kampung Namatota. Yen jareku, suasana senja di Namatota bisa 3-4 kali lipat indahnya dibanding Kota Kaimana sendiri. Soale kalo di Namatota pemandangan lebih asri, lebih ndeso, dan jelas lebih sepi orang. Aku ngalami dhewe mengunjungi tempat itu sore hari. Beberapa saat sak durunge surup pemandangan pertama yang disuguh adalah rombongan kalong. Rombongan itu anggotane ratusan, mungkin juga ribuan ekor. Kalong2 itu terbang melintas di atas kampung. Uakeeeeeh banget! Liat kalong2 di pulau sepi ini rasane seperti ngalami suasana di pilem Jurrasic Park. Begitu srengenge alias matahari mulai rendah, suasana berubah jadi oranye. Rumah-rumah penduduk, dermaga, mesjid, perahu2 nelayan, pohon kelapa terlihat semu2 oranye. Sementara penduduk Namatota yang pada nonton sunset keliatan seperti siluet. Dasar kulite wis ireng, jadi tambah jelas siluetnya. Top banget lahh pokoke. Sampeyan penasaran mau liat poto2nya? Monggo coba sampeyan lihat
Posted at Tuesday, December 15, 2009 by Moes Jum
Permalink
Sunday, December 13, 2009
Sampeyan dulu pernah denger lagu ini gak? Itu lho lagu lawas sing dinyanyikan sama Alfian. Lagune terkenal banget
kala itu dan lagu jaman mbiyen alias jadul banget. Judule "Senja di Kaimana". Iki lagu yang membuat pendengarnya pingin membuktikan kalo di Kaimana itu ada suasana senja sing romantis dan indah banget. Kan ku ingat slalu Kan ku kenang slalu Senja indah Senja di Kaimana
Seiring surya meredupkan sinar Jika datang ke hati berdebar Kau usapkan tangan halus mulus Di luka nan parah penuh debu .........
Kalo sampeyan belum tahu di mana Kaimana itu, monggo silaken sampeyan buka2 atlas utawa peta. Kalo gak punya atlas atau peta, yo sampeyan beli sana dulu. Tapi belinya jangan di toko bangunan
yang bener itu belinya yaa di toko buku. Kalo sampeyan punya peta atau atlas, sampeyan coba cari di bagian Papua, tepatnya propinsi Papua Barat. Trus sampeyan cari sebuah kota sing jenenge Kaimana. Letaknya berada di pojok selatan propinsi itu. Nahh balik lagi ke suasana senja. Aku ndilalah kebagian rejeki untuk bisa mengunjungi Kaimana sing terkenal itu. Pancen bener sedherek sedoyo
memang leres. Suasana senja di sana pancen indah dan romantis. Jadi wajar kalo dijadikan inspirasi buat lagu. Tapi berhubung sudah banyak cerita soal keindahan senja Kaimana, aku jadi males ikut2an crito soal itu. Aku mau crito yang lain aja. Critoku soal hal2 indah dan top markotop lain di sekitar Kaimana. Kaimana itu kota kecil. Dulunya (sebelum dimekarkan) Kaimana masih jadi bagian dari Kabupaten Fakfak. Kota ini berada di tepi laut sing terkenal dan daerah kaya hasil laut. Mau tau namanya? Namanya Laut Arafura. Laut yang kaya ikan, udang, dan hasil laut lain. Laut yang dikenal dalam buku pelajaran sejarah SD sebagai tempat bersejarah dalam perebutan Irian Jaya dari Belanda dulu. Tapi juga laut yang diserbu ribuan kapal penangkap ikan dan udang. Bicara soal top markotop, ternyata Kaimana gak cuma kaya sama ikan dan udang. Pas jalan2 di pasar sore tepi pantai, aku berkesempatan ngobrol sama mama2 yang bawa kepiting. Mama2 itu bilang kalo kepiting ini diambil dari kawasan hutan mangrove di daerah Teluk Arguni. Begitu lihat kepiting yang dijual, ternyata kepiting2 itu adalah kepiting2 super. Ukuran badannya itu lho
guedhe banget. Terbayang kalo kepiting2 raksasa itu direbus
. hmmm pasti rasane huenaakk dan lekker bangeeet!!! Top yang lain apa? Top yang lain adalah air laut sing resik pol sehingga terlihat bening. Laut sing bening dan banyak ikannya itu pantainya rata2 adalah pantai bertebing2. Gak cuman tebing juga ada gua2nya. Mirip koyok pemandangan nang pilem2 kae lahh
apalagi kalo ditambah sama pemandangan anak2 nelayan sing dolanan banyu sambil panggayo (dayung2) perahu kayu. Banyu laut sing bening itu tentunya jadi habitat biota laut sing macem2 jenisnya. Termasuk juga lumba-lumba
hmmm si lumba2. Wiiiihh
serasa indaaahh banget. Belum cukup bos, kalo crito soal top markotopnya Kaimana. Gak jauh dari kota Kaimana, kalo kita naik perahu ( long boat) ke arah selatan, kita bisa dapet pemandangan sing luwih hebat. Tebing2 karang yang berbatasan langsung sama air laut sepanjang perjalanan betul2 hebat. Ini bisa jadi lokasi yang menantang bagi para penakluk tebing sing hobine penekan ala rock climbing. Di salah satu jajaran tebing2 karang itu, kalo sampeyan punya mripat sing jeli, sampeyan bisa liat hal2 sing lebih luar biasa. Sampeyan bisa lihat lukisan tua (jaman pra-sejarah mungkin) di tebing2 itu. Miturut critone orang2 Kaimana, lukisan di dinding batu itu umurnya sudah tua banget. Ada gambar tangan, ada gambar mata, ada gambar orang, segitiga, dsb dsb. Semuanya pake tinta/pewarna merah. Ckckckckckkkkk
.Gimana
???Sampeyan masih kurang percoyo soal keindahan dan kehebatan daerah terpencil di Papua ini? Kalo masih belum percoyo, sampeyan dateng aja langsung ke Kaimana. Salah satu surga keindahan alam Papua. .... Seiring surya meredupkan sinar Jika datang ke hati berdebar Kau usapkan tangan halus mulus Di luka nan parah penuh debu
Senja di Kaimana Dan kasihmu dara Dalam jiwa Hingga akhir masa kan ku ingat senja di Kaimana
Posted at Sunday, December 13, 2009 by Moes Jum
Permalink
Friday, December 11, 2009
Setelah memenuhi undangan ngoceh di Jayapura, aku pindah kota ke propinsi tetangga. Ora adoh sih
ning yo lumayan ngoyo kalo ditempuh dengan jalan darat. Bukan apa2
dalane isih durung ono hehehe. Hanya tersedia dua moda transportasi di sini. Jalan laut numpak kapal Pelni, butuh waktu semalam. Utawa jalan udara numpak pesawat sekitar 45 menit. Karena aku wong ndeso dan ini tugas kantor, jelas lahh aku pengen numpak pesawat wae. Mabur soko Jayapura dengan final destination Manokwari. Liwat nang ndhuwure alas gung liwang-liwung, kali gedhe berkelok2 (Sungai Mamberamo), pesisir lor Tanah Papua, dan teluk cendrawasih. Pemandangan lumayan indah
soale penerbangan pagi. Alas Papua katon ijo royo2, sementara laute biru bening. Sayange nang alas ijo royo2 kuwi mulai digerus jalan2 HPH plus bukaan kebon2 sawit. Memang alase isih luas, ning siapa sing iso njamin 5 tahun ke depan alase isih ijo koyo ngene?Akhire pesawat tungganganku mendarat mulus nang bandara Rendani, Manokwari. Mbiyen
sepuluh tahun kepungkur Manokwari iki masih jadi kabupaten. Kotane cilik dan sepi. Ning saiki wis berubah dadi ibukota propinsi. Propinsi anyar sing jenenge Papua Barat. Yen wis dadi ibukota propinsi biasane bandarane juga dibangun dadi tambah gedhe dan tambah maju. Terbukti saiki bandara Rendani wis iso didarati oleh pesawat2 berbadan sedikit lebar koyodene Boeing 737. Yen mbiyen cuma maskapai Merpati sing ndarat nang kene, saiki wis ono tambahan Batavia Air dan Express Air. Cuma
masih ada cuma-nya ternyata. Bandara iki ternyata isih nyimpen benda2 bandara jaman batu. Lhoo
koq jaman batu? Sebenernya sih gak jaman batu, ning rodo mirip. Soale secara gak sengaja aku sempat ngintip nang jendelo pesawat pas pesawatku arep parkir. Aku sih gak nduga bakal nemu barang iki. Begitu aku ndelok metu jendelo
ternyata aku malah ndelok kendaraan hybrid (gerobak-tangga pesawat) sing lain daripada yang lain. Yen di bandara2 propinsi lain biasane tangga pesawat itu ditarik mobil, utawa berada di atas mobil. Lhaa di bandara Rendani bentuke malah aneh. Isih ono ciri2 kendaraannya sih koyodene ban dan setiran. Ning mesine gak ono. Tangga pesawat kuwi digerakkan dengan tenaga surung (didorong). Tapi ono supire. Modhel2ane dadi koyo mobil nang filem kartun Flinstones. Aku dadi geli dhewe ndelok kendaraan tangga pesawat kuwi
hehehe.Ternyata kendaraan model Flinstones gak cuman ono nang filem. Tapi juga nang bandara propinsi, Bandara Rendani di Manokwari. 
Posted at Friday, December 11, 2009 by Moes Jum
Permalink
Wednesday, December 09, 2009
Kurang ajar
!!!Dorang su ambil kayunya, ambil juga tanahnya, masih juga tipu kita. Setan
babi
cukimai!!!Mak glek rasane krungu langsung caci-maki dan pisuhan itu. Jelas ini bukan sekedar pisuhan ringan karena kebiasaan koyok wong etanan (baca: Jawa Timur). Mripate melilik, suara ne banter, bengak-bengok karo tangane ngacung2ke bogem. Jelas ini adalah orang2 yang memang sedang marah serius. Kejadiannya persis neng ngarepku. Dadi ceritane aku diundang karo konco2 Papua untuk hadir dalam sebuah acara mengenai kehutanan neng Papua. Judul acarane adalah Kongres I Selamatkan Manusia dan Hutan Papua. Jenenge wae kongres, dadi acarane yo membahas upaya-upaya kanggo menyelamatkan kehidupan orang Papua sekaligus menyelamatkan hutannya. Berdasarkan penelitian2 dan temuan konco2 Papua, ada keterkaitan antara kerusakan hutan Papua karo termarginalisasikannya wong2 asli Papua. Aku ternyata ora mung diundang dadi tamu thok. Aku ternyata juga dikongkon presentasi soal pembukaan kebon sawit nang Papua. Dadi undangan artine dadi tamu to? Sebagei tamu jelas aku hadir dengan senang hati. Opo maneh acarane diadakan nang Jayapura. Hmmm
pastine menyenangkan soale mlaku2 adoh banget. Perjalanan numpak pesawat soko nJakartee wae nganti 6 jam. Maklum aku kan rodo ndeso, dadi numpak pesawat kuwi termasuk kemewahan .. hehehe. Singkat cerito
mulailah aku ngoceh ngalor-ngidul soal babat alas besar2an kanggo kebon sawit ing Tanah Papua. Aku presentasi (alias ngoceh) di hadapan ratusan peserta kongres sing sebagian besar wong Papua. Ono perwakilan masyarakat adat, perwakilan LSM, perwakilan gereja dsb. Tapi walaupun ngoceh, dasarku ngoceh iki dudu gossip dan dudu isu. Ngocehku dasare soko penelitian dan pengalaman mengamati langsung di lapangan. Slide pertama berjalan lancar, maklum isine mung judul. Slide kedua dan ketiga mulai mengarah ke permasalahan
aku njelaske soal rencana2 Pangmerintah kanggo mbuka kebon sawit jutaan hektar nang Papua. Slide2 sak teruse langsung mengarah ke kejadian2 dan lokasine, teruss
sampe slide terakhir. Habis slide terakhir, aku langsung njaluk ijin muter video. "Bapa dan ibu sekalian
saya ingin menunjukkan video yang telah kami buat. Video ini berjudul "Up for Grabs" yang berisi kesaksian dari saudara2 kita yang tanah hutannya dibuka oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kami juga buat laporan cetaknya, tapi masih bahasa inggris. Silakan menonton ..... jengjengggg
"Begitu video diputer
para penonton langsung menyimak. Untungnya walaupun judule bahasa inggris, ning penjelasane nganggo bahasa Indonesahh. Jadi semua penonton mestine gampang paham isine. Menit2 pertama uwong2 dho meneng dan terdiam. Tapi menit2 selanjutnya beberapa penonton mulai gelisah. Ono sing bisik2 dan ono sing komentar. Sampe akhirnya
mulai ada penonton yang gak sabar. Komentare mulai seru dan penuh emosi. Wong2 mulai bengak-bengok. Makian dan cacian pun metu. Kemarahan gak reda tapi terus-menerus sampe videone entek. Wong2 podho nesu. Untungnya para penonton, terutama perwakilan masyarakat sing nesu2 gak mengarahkan makiannya padaku. Syukur alhamdulillah (walaupun aku juga kaget dan serem)
wong2 kuwi justru marah, sebel dan kecewa karo Pangmerintah dan perusahaan2 sawit sing semena2 kuwi. "Maaf ya Mas
torang bukan marah Mas. Torang marah karena itu prusahaan suda bikin habis torang orang Papua ini pu hutan. Torang juga makin marah karena torang pu sodara sudah kena tipu mereka. Belum lagi pemerintah yang suda kasih masuk itu prusahaan. Dorang itu setan suanggi semua!""Orang Papua itu tra macam itu
torang tra mungkin bisa kasih habis hutan. Hutan itu su torang anggap sebagai torang pu mama. Sebab hutan su kasih torang pu hidup orang Papua sejak tete-moyang. Jadi kalo dorang prusahaan sawit itu kasih habis hutan, berarti dorang su berani hancurkan torang pu hidup. Dorang mo bunuh torang pu mama!!!"Menyedihkan memang, tapi yo pancen ini kejadian sebenarnya. Hutan Papua itu sudah mulai digerus karo prusahaan2 sawit sing entuk restu soko Pangmerintah. Sementara wong2 Papua mung dadi bulan2an, diapusi macem2, dan akhire ora dianggep babar blas. Janji manis peningkatan ekonomi dan kesejahteraan kuwi mung apus2an. Tipu daya supaya tanah ulayat sing berupa hutan iso ditebang habis, dibabat, dadi kebon sawit. Sopo sing untung jal???
Posted at Wednesday, December 09, 2009 by Moes Jum
Permalink
Thursday, October 29, 2009
Sopo sing ora kenal mBogor? Itu lho mBogor nan indah permei. Tapi itu crito duluu ... mbiyen ... Kalo sekarang gimana? Naahh, saiki aku arep nyoba crito dari " koco mripat sukmo" alias perasaanku dhewe. Mbiyen, orang kenal mBogor itu sebagei tempat njuwal Tales mBogor dan Nanas Gati. Itu mungkin situasi berapa belas tahun lalu. Lha kalo sekarang, mBogor itu tempat asalnya Roti Unyil (Venus), Asinan Gedong Dalem, Soto Kuning, Ngo Hiang, Toge Goreng Pak Gebro, Macaroni Panggang, Pia Apple Pie, Nasi Timbel M-11, Bubur Ayam Kabita, dan Restoran Gumati. Saking macem2nya wajar yen mBogor selalu diserbu wong2 soko mancanegara, juga dari berbagei profesi dan asal-usul. Alasane macem2, mulai dari alasan wisata akhir minggu, hingga alasan pertemuan tahunan, rapat koordinasi, lokakarya, ketemu klien, napak tilas, sampe sekedar "ngadem" [ artine: cari udara sejuk] dan .... hehehe urusan golek kemul urip. Ora mung berubah dari segi keragaman panganan, mBogor sekarang. Dulu kita cuman kenal Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Museum Zoologi, Herbarium Bogoriense, serta Gunung Salak dan sekitarnya. Saiki, tempat-tempat tersebut mungkin gak lagi jadi lokasi prioritas. Sebab uwong2 saiki golekane Taman Safari, toko klambi murah sing jarene sisa ekspor ( factory outlet), pabrik Tas Tajur, mal-mal sing ambune wangi plus ono pendingin ruangane (Ekalokasari Plaza dan Botani Square). Ora mung kuwi, ada lagi yang paling gres yaitu wisata dolanan banyu nang kolam renang sing gedhene poll dan banyune kutah2 (luber) di the Jungle. Semakin jarang wong sing ngunjungi tempat bersejarah dan berwisata ilmiah. Sing digoleki malah blonjo, guwak2 dhuwit dan wisata nggaya koyo wong kutho metropolitan sing borose poll. Trus opo pancen koyo ngono kuwi sing bener? Yoo mbuuh ... tapi kayaknya jarang sing mikir rodo jero. Aku sih gak merasa iso mikir jero juga, ning aku isih merasa dadi warga mBogor. Setidaknya sebagei warga mBogor aku kudu nduweni tanggung jawab untuk menehi perhatian. Aku kan wis dipercoyo sama Pangmerintah mBogor untuk dapat KTP, saiki tinggal aku bisa menehi apa sama mBogor. Maunya sih ora mung aku sing mikir, tapi juga orang2 lain sing dadi warga mBogor utawa orang2 sing nduweni kedekatan emosional karo mBogor. Yen miturut wong2 pinter nang NPM (ngInstitut Pertanian mBogor), mBogor sing berubah kuwi wis ngorbanke kepentingan sosial dan lingkungan. Contone, pemukiman sing asri dan tenang dadi rame poll dan sumpek karo kendaraan bermotor, karena menjamurnya cafι, resto, dan factory outlet. Lingkungan kampus bersejarah berubah dadi pertokoan. Pinggiran kali dialih-fungsikan dadi perumahan elit. Pasar tradisional dadi pertokoan. Durung maneh daerah2 pedesan ( ndeso), kebun buah2an, dan sawah berubah dadi panggonan wisata kelas internasional. Intine ... kabeh isine mung penggusuran. Nggusur suasana asri dan tenang di kota pensiunan, nggusur kampus, nggusur pasar, nggusur keasrian tepi sungai, dan nggusur kawasan pedesaan. Nggusur koq dadi hobi ... ckckckckck?  Tapi sing aneh, "menggusur" dan "alih-fungsi" iki koyo dadi lumrah. Pangmerintah seperti berpihak pada penggusuran. Warga biasa juga koyo sing menikmati "kenyamanan modern" kuwi. Wis ngono, ahli2 tata ruang nang perguruan tinggi juga koyo macan ompong yang gak nduwe peran ngomong tidak, ora, ulah, dan no. Kabeh seperti sepakat ndadekake mBogor jadi kota metropolitan dan menghilangkan kawasan penuh pepohonan dan pertanian. Tradisional dan bersejarah kuwi dianggep kuno dan ketinggalan jaman. Ora cukup daerah kota dan pedesaan sekitar kota, lhaa Gunung Salak juga arep digusur. Jarene koncoku sing sering blusukan neng kampung2 Gunung Salak, wong2 kono wis deg-degan. Soale akeh tanah sing dho dijuwal. Jarene arep digawe lokasi wisata bertaraf internasional. Petani penggarap bingung golek lahan garapan. mBogor sing dikenal sebagei kota hujan, jarene wis ngalami kelangkaan air. Bahkan kabarnya kawasan hutan asli di Taman Nasional Halimun-Salak juga diincar menjadi bagian dari lokasi wisata internasional kuwi. Jelas too ... jelas aku ora salah yen ngajak2 uwong liyo melu mikirke soal mBogor. Ning mikire ojo kesuwen ... harus diteruskan bersikap dan melakukan tindakan nyata. Contone ... membiarkan kondisine dan bersikap apatis, atau pindah panggonan ke kota dan daerah lain utawa
ikhtiar untuk melawan penggusuran dan alih fungsi iki? gambar Tuju Kujang dijupuk soko kene. crito sing mirip juga ono nang kene.
Posted at Thursday, October 29, 2009 by Moes Jum
Permalink
Tuesday, October 27, 2009
Wis suwe rasane aku gak pernah diingatkan kanggo mengkaji awakku dhewe. Opo karepe jal? Tentu maksudnya soal sejauh mana kita memahami diri kita secara badaniah maupun rohaniah. Wiiih jero banget yoo? Kesannya ini adalah sebuah upaya yang berkaitan dengan upaya "ngrogoh sukma". Sebuah kemampuan sing biasanya dimiliki oleh wong2 yang sering zikir dan rajin ibadah. Kalo gak gitu yoo para pendekar di cerita2 silat. Tapi aku barusan justru dapet sebuah pencerahan baru soko koncoku yang bukan kyai, pendeta, apalagi pendekar silat atau kungfu. Dheweke itu cuman wong biasa yang bahkan cenderung lebih sering melakukan hal-hal yang dijauhi oleh orang-orang beriman. Kancaku itu yen mbengi nongkrong, begadang, gitar2an, utawa mendem ciu nganti esuk. Uripe ngalong, soalnya pagi dan siangnya dipake khusus untuk micek alias tidur nyenyak. Tak dinyana, tak disangka lha kancaku malah ngasih wejangan soal driji alias jari2, terutama jari tangan. Mungkin petuahnya hampir gak ada yang hebat, apalagi yen kita lihat dia itu cuman wong sing urip ora jelas, hobi mendem dan maksiat. Tapi waktu aku nyoba mikir agak lebih serius, koyone wejangan koncoku itu ada benernya. Terutama bener jika kita kaitkan dengan budaya. Dia bilang begini ..."Kamu tahu gak, jari2 tangan kita itu adalah gambaran dari hidup kita? Kalo kita sering pake salah satu jari, maka yaa kita itu bisa punya sifat yang serupa. Soalnya jari2 kita itu masing2 punya sifat "paling". Bisa paling baik maupun paling jelek."- Jempol alias ibu jari itu yang punya sifat paling baik. Kita selalu pake jari itu kalo ingin mengungkapkan sesuatu yang bagus dan baik. Kalo di tanah Sunda, kita juga sering lihat orang pakai jempol untuk menunjukkan arah
supaya lebih sopan.
- Telunjuk, itu jari yang punya sifat tegas dan pasti. Kita akan pakai telunjuk untuk menunjukkan sesuatu secara lebih pasti. Jari ini juga dipakai untuk menarik tuas peledak pada senapan atau pistol.
- Jari tengah
. Nahh ini kayaknya jangan sering2 dipakai. Soalnya jari ini adalah jari yang paling "nakal"
nakal segalanya. Nakal karena sering dipake untuk melentingkan puntung rokok sembarangan. Nakal juga karena bisa dipake untuk kepentingan "kilik-kilik dari bawah". Wis pokoke nakal lahh jari ini!
- Jari manis
opo yo? Agak susah membayangkan dan memikirkan sifatnya. Soalnya jari ini hampir tidak berguna apa2 kecuali dipake untuk memetik salah satu senar gitar, atau untuk canthelan cincin. Ada yang lain gak?
. Jari yang lain sih ada.
- Kelingking
. Lha kalo yang ini bisa digolongkan sebagai temennya jari tengah yang nakal itu. Sekalipun demikian kelingking cenderung kurang nakal. Tapi dia bersifat kemproh alias jorok banget. Gimana gak jorok, lha wong dia itu paling seneng masuk2 ke lubang tubuh yang biasanya ada kotorannya. Contohnya: ngupil di lubang hidung, ngorok2 lubang kuping, kadang juga dipake untuk silit. Hiiii
. Nggilani!!!
Nahh sekarang terserah sampeyan saja. Sampeyan mau percaya crito ini monggo. Mau gak percaya
yaa monggo juga. Asal jangan sampe sampeyan menukar-nukar fungsi jari2 itu. Soale akan jadi kacau. Bayangkan saja kalo sampeyan ngupil pake jempol, pasti irunge sampeyan lubangnya akan membesar gedhe banget. poto sikil di atas dijupuk soko kene
Posted at Tuesday, October 27, 2009 by Moes Jum
Permalink
|